Diplomasi Ala Bugis… Sebuah opini dari Bapak Muhammad Jusuf Kalla
Sebelum saya menjabat sebagai WAPRES, karakter dan watak orang Bugis sangat jarang yang mengenalnya di belahan Nusantara ini. Bahkan ada banyak pendapat yang keliru dan menyangka orang Bugis adalah bangsa yang keras dan tidak pernah kenal kompromi. Ini jika melihat dari sejarah banyak yang menganggap bahwa orang Bugis adalah bajak laut pada masa silam. Anggapan ini sungguh tidak berdasar dan keliru.
Jumat, 29 Oktober 2010
Sabtu, 23 Oktober 2010
Wanita Terkaya Prancis Gugat Anaknya Sendiri
PARIS, Miliarder wanita terkaya Prancis yang juga pewaris kerajaan bisnis, L'Oreal, Liliane Bettencourt, Rabu mengajukan gugatan kepada anak perempuannya. Ia menuding sang anak melakukan pelecehan psikologis atas dirinya. Pengacara Pascal Wilhelm mengumumkan kasus perdata terhadap Francoise Meyers-Bettencourt setelah anak perempuan ini mencoba untuk ketiga kalinya menyebut ibunya yang berusia 87 tahun sebagai tidak sehat secara mental. "Kekerasan psikologis lebih menyakitkan ketimbang penganiayaan fisik," kata Wilhelm pada wartawan.
Awal bulan ini, sang anak meminta hakim untuk memutuskan sang ibu sakit mental. Dua upaya sebelumnya ditolak karena kurangnya bukti medis.
Bettencourt berada di bawah tekanan hukum atas dugaan penggelapan pajak dan pendanaan kampanye ilegal yang menyeret Menteri Perburuhan Perancis Eric Woerth. Putri Bettencourt menuduh orang yang dekat dengan ibunya, termasuk fotografer selebriti Francois-Marie Banier, telah mengambil keuntungan dari dirinya dan klaim dia tidak lagi dalam keadaan mental yang cocok untuk mengelola hartanya.
Dikutip dari REPUBLIKA
Jumat, 22 Oktober 2010
Gila!! Pendeta Togo Nikahkan Wanita Dengan Anjing
WANITA asal Togo ini benar-benar gila. Setelah gagal menjalin kasih gonta-ganti pasangan dengan banyak pria, ia frustasi memilih sosok ideal sebagai pasangan hidup. Ia pun memilih binatang anjing sebagai sosok ideal suami dalam ritual pernikahan yang dipimpin oleh pendeta tradisional.
Emily Mabou (29) membuat keputusan aneh, dia memutuskan untuk menikah dengan anjingnya sendiri! Perempuan dari Desa Aburi, Togo, itu beralasan, bahwa hanya pada anjingnya itu dia melihat sosok ideal laki-laki yang selama ini didambakannya.
Padahal, Emily sudah pernah memiliki banyak pacar, namun tidak pernah dirasa cocok dan mengerti isi hatinya, kecuali si anjingnya.
”Saya sudah berhubungan dengan begitu banyak laki-laki tapi mereka semua sama saja, cuma mau seks dan suka berbohong. Anjing saya lain, dia baik, setia pada saya dan dia selalu memperlakukan saya dengan hormat,” jelas Emily.
"....Saya sudah berhubungan dengan begitu banyak laki-laki tapi mereka semua sama saja, cuma mau seks dan suka berbohong. Anjing saya lain, dia baik, setia pada saya...."
Akhirnya, dicarilah pesta pernikahan yang digelar dengan dipimpin pendeta tradisional setempat. Warga desa pun berbondong-bondong hadir karena penasaran ingin melihat penganten prianya, seekor anjing.Tidak diketahui jenis anjing apa yang dinikahi oleh Emily, tapi dia berkata bahwa sang anjing mengingatkan dirinya pada sang ayah yang lemah lembut, baik hati dan setia pada ibunya. Emily Mabou ingin mendapatkan partner hidup yang mempunyai sosok figur seperti sang ayah.
....sang anjing mengingatkan dirinya pada sang ayah yang lemah lembut, baik hati dan setia pada ibunya....
Tapi pesta ini tak dihadiri keluarga dekat dan kerabat Emily. Mereka tidak setuju dengan pernikahan ini, dan menganggap keputusan Emily itu sebagai ”langkah paling gila untuk melawan kesepian.”
Tapi Emily tidak ambil pusing, dia sudah lelah dengan pria karena sudah pernah tersakiti. Menurutnya pria hanyalah pengejar nafsu. Emily bahkan berniat untuk mengadopsi seorang anak bersama dengan suami barunya.
Saat ditanya bagaimana dia akan punya anak dengan suaminya, Emily menjawab tegas dia akan mengangkat anak.
Dikutip dari voice of al-islam
Rabu, 20 Oktober 2010
Fosil Kura-Kura Purba Ditemukan di Antartika
ANTARTIKA - Sebuah fosil kura-kura purba yang berusia sekira 45 juta tahun yang lalu baru-baru ini ditemukan di Antartika.
Tulang-tulang yang ditemukan tersebut hanya berupa dua buah fragmen cangkang dari kura-kura purba. Situs penemuan itu berlokasi di gugusan La Meseta di pulau Seymour Island, Antartika. Ekspedisi tersebut dilakukan oleh tim Antartic Institute of Argentina. Demikian seperti yang dikutip dari Live Science, Rabu (20/10/2010).
Sementara ini para peneliti belum bisa menentukan jenis spesies kura-kura tersebut. Fragmen cangkang kura-kura yang ditemukan tersebut mungkin bukan dari spesies kura-kura yang sebelumnya sudah diketahui tinggal di wilayah tersebut pada era prasejarah, yang dikenal dengan nama Eocene Epoch.
Penemuan ini dapat memberikan petunjuk kepada para ilmuwan mengenai lingkungan dan suhu di Antartika pada masa itu.
"Fosil-fosil baru ini menunjukkan keberagaman kura-kura itu pada jaman Eocene lebih besar di wilayah Antartika dari dugaan semual," ujar Marcelo S de la Fuente, peneliti dari Natural History Museum di San Rafael, Argentina.
Selama masa Eocene, kondisi Bumi berbeda dengan kondisi hari ini. Pada awal periode ini wilayah benua Antartika dan benua Australia masih tergabung, dan benua Antartika masih jauh lebih hangat, bahkan masih ada hutan hujan di masa-masa awalnya.
Penemuan tulang kura-kura purba jenis baru ini mengindikasikan keanekaragaman kura-kura di wilayah tersebut. Benua Antartika masih jauh lebih hangat dari yang diperkirakan.
"Keanekaragaman hayati tidak umum di perairan dingin. Keanekaragaman hayati hanya ada pada perairan tropis," kata de la Fuente.
"Mahkluk vertebrata (binatang bertulang belakang, termasuk kura-kura) sebenarnya cukup banyak di Antartika jaman purba," tambah de la Fuente.
Selain menemukan tulang-tulang dari kura-kura purba, tim tersebut juga menemukan banyak fosil dari ikan Hiu, pinguin, ikan Paus dan ikan-ikan kecil lainnya.
Dikutip dari okezone
Daftar Gaji Para Karyawan Google
Google telah lama diketahui sebagai tempat terbaik untuk berkarir. Mereka menawarkan pijat gratis, kudapan, dan potong rambut profesional pada kampus mereka di California. Hal tersebut telah menempatkan mereka diatas 99.99% dari seluruh perusahaan yang ada di dunia. Tahukah Anda berapa banyak yang dihasilkan oleh karyawan Google? Data berikut tidak terlalu mudah dicari, jika Anda tidak percaya, Anda dapat mengeceknya di Google.
Berikut ini adalah statistik yang cukup menarik.
1. Google Programmer di Phoenix - $174,000/tahun
2. Google Programmer di California - $197,000/tahun
3. Google Programmer di Chicago - $222,000/tahun
4. Google Programmer di New York - $242,000/tahun
(menurut Indeed.com)1. Google Programmer di Phoenix - $174,000/tahun
2. Google Programmer di California - $197,000/tahun
3. Google Programmer di Chicago - $222,000/tahun
4. Google Programmer di New York - $242,000/tahun
Itu hanya gajinya… Keuntungan apa lagi yang ditawarkan Google kepada karyawannya?
1. Google akan membayar $8.000/ tahun jika anda meneruskan pendidikan. Mereka hanya mengaharapkan nilai “B”.
2. Jika anda me-refer seorang karyawan untuk menjadi staff Google dan mereka bertahan untuk 60 hari, Google akan membayar $2.000 kepada anda.
3. Jika anda hendak mengadopsi anak, Google akan memberikan $5.000 untuk urusan legal dan biaya adopsi.
4. Tergantung dari berapa lama anda bekerja di Google, anda akan mendapatkan sampai dengan 25 hari bonus liburan dalam setahun.
2. Jika anda me-refer seorang karyawan untuk menjadi staff Google dan mereka bertahan untuk 60 hari, Google akan membayar $2.000 kepada anda.
3. Jika anda hendak mengadopsi anak, Google akan memberikan $5.000 untuk urusan legal dan biaya adopsi.
4. Tergantung dari berapa lama anda bekerja di Google, anda akan mendapatkan sampai dengan 25 hari bonus liburan dalam setahun.
Satu lagi hal yang menarik dari segi finansial karyawan Google, menurut New York Times, kira-kira ada 1.000 karyawan Google yang memiliki saham dengan nilai $5 juta dollar.
Masih menurut New York Times, setiap karyawan yang bersama Google untuk setahun saja memiliki nilai lebih dari $250.000.
Masih menurut New York Times, setiap karyawan yang bersama Google untuk setahun saja memiliki nilai lebih dari $250.000.
Perusahaan pesaing mengatakan bahwa programmer Google telah menikmati 50% kenaikan gaji dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya hal ini tidaklah mengherankan buat perusahaan sekelas Google. jadi ada agan2 yang Tertarik untuk bergabung dengan Google?
Dikutip dari kompasiana
Kamis, 14 Oktober 2010
Menelusuri Jejak Saudara di Suriname
Oleh Rz. Subagiyo


"Aku durung tahu neng Jowo nanging, jarene mbahku seka Pengging, Banyudono, Boyolali. Ndhisik tekan kene digowo Londo dadi kuli kontrak," kata Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun warga negara Suriname keturunan Jawa.
Artinya, "Saya belum pernah ke Jawa, tapi katanya, kakek saya berasal dari Pengging, Banyudono, Boyolali. Dulu dibawa ke sini oleh Belanda sebagai kuli kontrak."
Itulah sepenggal cerita yang dikisahkan Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun, warga negara Suriname keturunan Jawa mengenai leluhurnya yang merupakan salah satu dari ribuan tenaga kerja perkebunan yang didatangkan Belanda 120 tahun lalu.
Pada 1890 untuk pertama kalinya kaum imigran dari Jawa (etnis Jawa) menjejakkan kaki di benua Amerika tepatnya di Suriname, sebuah negara di kawasan Amerika Selatan yang jaraknya dari Indonesia memerlukan waktu tempuh sekitar 21-23 jam dengan pesawat terbang saat ini.
Kedatangan imigran Jawa ke Suriname terbagi tiga tahap, yakni pada 1890 tepatnya pada 9 Agustus di kawasan Marienburg, sebagai daerah tempat pendaratan pertama kali orang Jawa ke negara yang juga disebut Guyana Belanda itu.
Hampir 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname pada periode 1890-1939. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Semarang merupakan daerah perekrutan utama. Hanya 20 hingga 25 persen dari migran Jawa kembali ke negara asal mereka sebelum Perang Dunia II.
Sadiran menceritakan, sering kali orang-orang Jawa, pada umumnya masih pemuda, yang dibawa Belanda ke Suriname bukan atas kemauan ataupun kesadaran sendiri, melainkan menurut istilah mereka "diwereg" atau ditipu oleh para agen pencari budak.
"Tak jarang anak-anak itu sedang bermain-main di luar rumah kemudian didatangi seseorang, mereka diajak bicara-bicara dan seperti terkena hipnotis menurut saja," kata Sadiran dengan menggunakan bahasa Jawa.
Kisah tersebut diamini oleh Bob Saridin, salah satu pengusaha Suriname keturunan Jawa yang menyebutkan para pemuda dari Jawa tersebut oleh Belanda dikatakan akan dipekerjakan di "tanah seberang" (istilah masyarakat Jawa untuk wilayah luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, ataupun Sulawesi).
Namun, tanpa sepengetahuan mereka, imigran Jawa tersebut diangkut ke wilayah koloni Belanda di kawasan Karibia dengan menggunakan kapal laut yang kondisinya memprihatinkan sehingga tak jarang ada yang mengalami sakit di perjalanan bahkan meninggal di atas kapal.
Pemerintah Belanda menjanjikan para pekerja dari Jawa tersebut akan dikontrak selama lima tahun dan setelah selesai kontraknya sebagai pekerja perkebunan akan dipulangkan ke tanah Jawa kembali.
"Mereka juga dijanjikan gaji sebesar 35 sen sehari dengan jam kerja 12-13 jam. Namun, semua itu tidak pernah ditepati oleh Pemerintah Belanda," katanya.
Bahkan, Belanda menetapkan peraturan yang amat ketat bagi para pekerja perkebunan dari Jawa, yakni dilarang keluar dari kawasan perkebunan, jika diketahui melanggar aturan tersebut, dikenakan sanksi dan denda.
Oleh karena itu, tak jarang banyak pekerja dari Jawa yang kehabisan gaji untuk membayar denda karena ketahuan keluar dari kawasan perkebunan dan akhirnya tidak mampu menabung untuk bisa kembali ke Jawa.
Keinginan warga Jawa yang berada di Suriname untuk kembali ke kampung halaman mereka di tanah Jawa begitu besar, tetapi harapan tersebut selalu kandas bahkan ketika Indonesia sudah merdeka pada 1945 hambatan itu masih ada.
Ketika para pemimpin politik Indonesia datang ke Suriname keinginan untuk kembali ke Tanah Air itu disampaikan, tetapi tidak juga membuahkan hasil, meskipun mereka memiliki paspor Indonesia.
Pada 1954 sekitar 1.000 orang keturunan Jawa di Suriname mencoba untuk kembali ke Tanah Air, tetapi kapal yang mereka tumpangi tidak sampai ke Jawa, hanya di Sumatera sehingga mereka akhirnya menetap di Sumatera.
Setelah 1950-an warga Jawa yang ada di Suriname sadar bahwa mereka tidak bisa kembali ke Indonesia. Hingga 1975 kesadaran politik dan pendidikan mulai tumbuh di kalangan warga keturunan Jawa.
Mereka yang sebelumnya warga negera Belanda akhirnya memilih untuk menjadi warga negara Suriname guna menjalani kehidupan yang baru dan lebih baik.
Dari tahun ke tahun, warga Jawa di Suriname mengalami perkembangan, baik jumlahnya maupun peran mereka, dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Saat ini, dari sekitar 500.000 jiwa penduduk Suriname, etnis Jawa sekitar 15 persen atau 71.900 jiwa sedangkan mayoritas dari suku Hindustan, yakni 135.000 orang, diikuti oleh Afro-Suriname (87.500), Maroon (72.600), dan sisanya etnis lain.
Menunjukkan kiprah
Di bidang politik, sejak 1980 warga Suriname keturunan Jawa, terutama yang berpendidikan tinggi, sudah menunjukkan kiprahnya di bidang politik dan pemerintahan, dan saat ini terdapat enam menteri dalam anggota kabinet Suriname.
Keenam orang menteri tersebut, yakni Menteri Perdagangan dan Industri, Micheal Miskin; Menteri Dalam Negeri, Soewarto Moestadja; Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan, Hendrik Setrowidjojo; Menteri Tenaga Kerja, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup, Ginmardo Kromosoeto, Menteri Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Raymond Sapoen serta Menteri Sosial dan Perumahan Rakyat Hendrik Sorat Setro Wijojo.
Selain itu juga Kepala Kepolisian Suriname H Setrosentono serta mantan Ketua Parlemen Suriname Paul Salam Sumohardjo.
Tak hanya dalam jajaran pejabat politik pemerintahan, tetapi beberapa jejak yang tertinggal dari masyarakat keturunan Jawa di Suriname bisa terlihat dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
Salah satu jejak yang masih terlihat jelas eksistensi keturunan Jawa di Suriname, yakni nama-nama jalan terutama di kampung-kampung, seperti Wagiran Weg (weg artinya jalan), Sastroredjo Weg, Purwodadi Weg, Sidodadi Weg yang semuanya merujuk pada nama orang ataupun tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bukan hanya nama-nama jalan, melainkan jenis-jenis makanan asal Jawa juga masih terlihat di negara tersebut, seperti petjel (pecel), saoto (soto), tjenil (cenil, yakni salah satu jenis jajanan pasar), lontong djangan (lontong sayur), bami (bakmi), ketan, guleh (gule).
Untuk sebutan toko ataupun rumah makan, warga Suriname keturunan Jawa menggunakan istilah "warung" misalnya Warung Gulo, Warung Budi Rahaju, Warung Sabar, Warung Tante Pon, ataupun Warung Om Djon. Salah satu rumah makan yang sangat terkenal dengan menu-menu masakan Jawa, yakni Warung Toeti.
Nama-nama orang meskipun masih menggunakan nama Jawa, tetapi umumnya sudah digabung dengan nama-nama barat, seperti Stanley Sidoel, Alfons Satropawiro, Bob Saridin, Hendrik Legiman, Kim Sontosoemarto ataupun Sharon Pawiroredjo.
Seni dan budaya dari Jawa yang masih berkembang di Suriname seperti tari-tarian, kesenian djaran kepang (kuda lumping), ludruk, reog ataupun kabaret, yakni semacam ludruk yang pemainnya semuanya laki-laki, termasuk untuk memerankan tokoh perempuan.
Meskipun kebudayaan Jawa di negara yang multietnis tersebut, terdiri dari suku Hindustan (India), Kreol dan Bushnegro (Afrika), Jawa (Indonesia), Amerindian, China dan etnis lainnya, itu masih berkembang, teapi bahasa Jawa justru sudah tidak lagi mendominasi percakapan sehari-hari.
Bahasa nasional Suriname, yakni bahasa Belanda, sehingga tidak mengherankan jika keturunan Jawa, terutama kaum muda, sudah tidak bisa lagi berbahasa moyangnya.
Jika tidak menggunakan bahasa Belanda, dalam pergaulan, kaum muda lebih banyak menggunakan bahasa "taki-taki" yakni bahasa Inggris pasaran yang hanya terdapat di Suriname.
Meskipun demikian, di negara tersebut terdapat tiga stasiun televisi dan radio yang menayangkan siaran berbahasa Jawa, yakni TV Garuda, TV Mustika, dan TV Pertjajah serta Radio Garuda, Radio Mustika, dan Radio Pertjajah yang semuanya milik keturunan Jawa.
Lagu-lagu berbahasa Jawa, baik dari Indonesia maupun asli karya seniman-seniman musik Suriname, masih berkembang di sana dan disukai kaum muda, meskipun mereka mengakui hanya sedikit-sedikit kemampuan berbahasa Jawa.
Gedung Sana Budaya merupakan satu-satunya gedung kesenian di Suriname yang sering dimanfaatkan untuk mementaskan seni dan budaya Jawa, seperti wayang orang, sendratari, ludruk, ataupun lagu-lagu berbahasa Jawa (campur sari), baik oleh penyanyi setempat di antaranya yang terkenal Edward Kasimun dan Maruf Amastam, termasuk juga dari Indonesia, seperti Didi Kempot, Yan Velia, Mus Mulyadi, Verina, dan lain-lain.
Masyarakat Suriname keturunan Jawa saat ini kini memiliki perkumpulan, yakni Vereniging Herdeking Javaanse Immigratie (VHIJ) atau Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di Suriname didirikan pada 15 Januari 1985.
Budaya ataupun masyarakat Jawa (keturunan) memang masih berkembang dan eksis di Suriname, tetapi bukan lagi Jawa yang "njawani" sebaliknya telah berbaur dengan kultur dan etnis yang hidup di situ sehingga terlihat sebagai Jawa yang mengglobal.
Maka tak mengherankan jika mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa di Suriname tetapi melodinya beriramakan musik regae ataupun pop manis bukan campur sari sebagaimana di Indonesia karena terpengaruh kultur Karibia.
"Budaya Jawa memang berkembang di sini, tetapi Jawa yang seperti apa? Tentunya bukan Jawa seperti Yogyakarta karena di sini tidak ada keraton ataupun Indonesia. Namun, Jawa yang menjadi bagian dari bangsa Suriname," kata Menteri Dalam Negeri Suriname Soewarto Moestadja.
Dari KOMPAS
"Mereka juga dijanjikan gaji sebesar 35 sen sehari dengan jam kerja 12-13 jam. Namun, semua itu tidak pernah ditepati oleh Pemerintah Belanda," katanya.
"Aku durung tahu neng Jowo nanging, jarene mbahku seka Pengging, Banyudono, Boyolali. Ndhisik tekan kene digowo Londo dadi kuli kontrak," kata Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun warga negara Suriname keturunan Jawa.Artinya, "Saya belum pernah ke Jawa, tapi katanya, kakek saya berasal dari Pengging, Banyudono, Boyolali. Dulu dibawa ke sini oleh Belanda sebagai kuli kontrak."
Itulah sepenggal cerita yang dikisahkan Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun, warga negara Suriname keturunan Jawa mengenai leluhurnya yang merupakan salah satu dari ribuan tenaga kerja perkebunan yang didatangkan Belanda 120 tahun lalu.
Pada 1890 untuk pertama kalinya kaum imigran dari Jawa (etnis Jawa) menjejakkan kaki di benua Amerika tepatnya di Suriname, sebuah negara di kawasan Amerika Selatan yang jaraknya dari Indonesia memerlukan waktu tempuh sekitar 21-23 jam dengan pesawat terbang saat ini.
Kedatangan imigran Jawa ke Suriname terbagi tiga tahap, yakni pada 1890 tepatnya pada 9 Agustus di kawasan Marienburg, sebagai daerah tempat pendaratan pertama kali orang Jawa ke negara yang juga disebut Guyana Belanda itu.
Hampir 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname pada periode 1890-1939. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Semarang merupakan daerah perekrutan utama. Hanya 20 hingga 25 persen dari migran Jawa kembali ke negara asal mereka sebelum Perang Dunia II.
Sadiran menceritakan, sering kali orang-orang Jawa, pada umumnya masih pemuda, yang dibawa Belanda ke Suriname bukan atas kemauan ataupun kesadaran sendiri, melainkan menurut istilah mereka "diwereg" atau ditipu oleh para agen pencari budak.
"Tak jarang anak-anak itu sedang bermain-main di luar rumah kemudian didatangi seseorang, mereka diajak bicara-bicara dan seperti terkena hipnotis menurut saja," kata Sadiran dengan menggunakan bahasa Jawa.
Kisah tersebut diamini oleh Bob Saridin, salah satu pengusaha Suriname keturunan Jawa yang menyebutkan para pemuda dari Jawa tersebut oleh Belanda dikatakan akan dipekerjakan di "tanah seberang" (istilah masyarakat Jawa untuk wilayah luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, ataupun Sulawesi).
Namun, tanpa sepengetahuan mereka, imigran Jawa tersebut diangkut ke wilayah koloni Belanda di kawasan Karibia dengan menggunakan kapal laut yang kondisinya memprihatinkan sehingga tak jarang ada yang mengalami sakit di perjalanan bahkan meninggal di atas kapal.
Pemerintah Belanda menjanjikan para pekerja dari Jawa tersebut akan dikontrak selama lima tahun dan setelah selesai kontraknya sebagai pekerja perkebunan akan dipulangkan ke tanah Jawa kembali.
"Mereka juga dijanjikan gaji sebesar 35 sen sehari dengan jam kerja 12-13 jam. Namun, semua itu tidak pernah ditepati oleh Pemerintah Belanda," katanya.
Bahkan, Belanda menetapkan peraturan yang amat ketat bagi para pekerja perkebunan dari Jawa, yakni dilarang keluar dari kawasan perkebunan, jika diketahui melanggar aturan tersebut, dikenakan sanksi dan denda.
Oleh karena itu, tak jarang banyak pekerja dari Jawa yang kehabisan gaji untuk membayar denda karena ketahuan keluar dari kawasan perkebunan dan akhirnya tidak mampu menabung untuk bisa kembali ke Jawa.
Keinginan warga Jawa yang berada di Suriname untuk kembali ke kampung halaman mereka di tanah Jawa begitu besar, tetapi harapan tersebut selalu kandas bahkan ketika Indonesia sudah merdeka pada 1945 hambatan itu masih ada.
Ketika para pemimpin politik Indonesia datang ke Suriname keinginan untuk kembali ke Tanah Air itu disampaikan, tetapi tidak juga membuahkan hasil, meskipun mereka memiliki paspor Indonesia.
Pada 1954 sekitar 1.000 orang keturunan Jawa di Suriname mencoba untuk kembali ke Tanah Air, tetapi kapal yang mereka tumpangi tidak sampai ke Jawa, hanya di Sumatera sehingga mereka akhirnya menetap di Sumatera.
Setelah 1950-an warga Jawa yang ada di Suriname sadar bahwa mereka tidak bisa kembali ke Indonesia. Hingga 1975 kesadaran politik dan pendidikan mulai tumbuh di kalangan warga keturunan Jawa.
Mereka yang sebelumnya warga negera Belanda akhirnya memilih untuk menjadi warga negara Suriname guna menjalani kehidupan yang baru dan lebih baik.
Dari tahun ke tahun, warga Jawa di Suriname mengalami perkembangan, baik jumlahnya maupun peran mereka, dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Saat ini, dari sekitar 500.000 jiwa penduduk Suriname, etnis Jawa sekitar 15 persen atau 71.900 jiwa sedangkan mayoritas dari suku Hindustan, yakni 135.000 orang, diikuti oleh Afro-Suriname (87.500), Maroon (72.600), dan sisanya etnis lain.
Menunjukkan kiprah
Di bidang politik, sejak 1980 warga Suriname keturunan Jawa, terutama yang berpendidikan tinggi, sudah menunjukkan kiprahnya di bidang politik dan pemerintahan, dan saat ini terdapat enam menteri dalam anggota kabinet Suriname.
Keenam orang menteri tersebut, yakni Menteri Perdagangan dan Industri, Micheal Miskin; Menteri Dalam Negeri, Soewarto Moestadja; Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan, Hendrik Setrowidjojo; Menteri Tenaga Kerja, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup, Ginmardo Kromosoeto, Menteri Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Raymond Sapoen serta Menteri Sosial dan Perumahan Rakyat Hendrik Sorat Setro Wijojo.
Selain itu juga Kepala Kepolisian Suriname H Setrosentono serta mantan Ketua Parlemen Suriname Paul Salam Sumohardjo.
Tak hanya dalam jajaran pejabat politik pemerintahan, tetapi beberapa jejak yang tertinggal dari masyarakat keturunan Jawa di Suriname bisa terlihat dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
Salah satu jejak yang masih terlihat jelas eksistensi keturunan Jawa di Suriname, yakni nama-nama jalan terutama di kampung-kampung, seperti Wagiran Weg (weg artinya jalan), Sastroredjo Weg, Purwodadi Weg, Sidodadi Weg yang semuanya merujuk pada nama orang ataupun tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bukan hanya nama-nama jalan, melainkan jenis-jenis makanan asal Jawa juga masih terlihat di negara tersebut, seperti petjel (pecel), saoto (soto), tjenil (cenil, yakni salah satu jenis jajanan pasar), lontong djangan (lontong sayur), bami (bakmi), ketan, guleh (gule).
Untuk sebutan toko ataupun rumah makan, warga Suriname keturunan Jawa menggunakan istilah "warung" misalnya Warung Gulo, Warung Budi Rahaju, Warung Sabar, Warung Tante Pon, ataupun Warung Om Djon. Salah satu rumah makan yang sangat terkenal dengan menu-menu masakan Jawa, yakni Warung Toeti.
Nama-nama orang meskipun masih menggunakan nama Jawa, tetapi umumnya sudah digabung dengan nama-nama barat, seperti Stanley Sidoel, Alfons Satropawiro, Bob Saridin, Hendrik Legiman, Kim Sontosoemarto ataupun Sharon Pawiroredjo.
Seni dan budaya dari Jawa yang masih berkembang di Suriname seperti tari-tarian, kesenian djaran kepang (kuda lumping), ludruk, reog ataupun kabaret, yakni semacam ludruk yang pemainnya semuanya laki-laki, termasuk untuk memerankan tokoh perempuan.
Meskipun kebudayaan Jawa di negara yang multietnis tersebut, terdiri dari suku Hindustan (India), Kreol dan Bushnegro (Afrika), Jawa (Indonesia), Amerindian, China dan etnis lainnya, itu masih berkembang, teapi bahasa Jawa justru sudah tidak lagi mendominasi percakapan sehari-hari.
Bahasa nasional Suriname, yakni bahasa Belanda, sehingga tidak mengherankan jika keturunan Jawa, terutama kaum muda, sudah tidak bisa lagi berbahasa moyangnya.
Jika tidak menggunakan bahasa Belanda, dalam pergaulan, kaum muda lebih banyak menggunakan bahasa "taki-taki" yakni bahasa Inggris pasaran yang hanya terdapat di Suriname.
Meskipun demikian, di negara tersebut terdapat tiga stasiun televisi dan radio yang menayangkan siaran berbahasa Jawa, yakni TV Garuda, TV Mustika, dan TV Pertjajah serta Radio Garuda, Radio Mustika, dan Radio Pertjajah yang semuanya milik keturunan Jawa.
Lagu-lagu berbahasa Jawa, baik dari Indonesia maupun asli karya seniman-seniman musik Suriname, masih berkembang di sana dan disukai kaum muda, meskipun mereka mengakui hanya sedikit-sedikit kemampuan berbahasa Jawa.
Gedung Sana Budaya merupakan satu-satunya gedung kesenian di Suriname yang sering dimanfaatkan untuk mementaskan seni dan budaya Jawa, seperti wayang orang, sendratari, ludruk, ataupun lagu-lagu berbahasa Jawa (campur sari), baik oleh penyanyi setempat di antaranya yang terkenal Edward Kasimun dan Maruf Amastam, termasuk juga dari Indonesia, seperti Didi Kempot, Yan Velia, Mus Mulyadi, Verina, dan lain-lain.
Masyarakat Suriname keturunan Jawa saat ini kini memiliki perkumpulan, yakni Vereniging Herdeking Javaanse Immigratie (VHIJ) atau Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di Suriname didirikan pada 15 Januari 1985.
Budaya ataupun masyarakat Jawa (keturunan) memang masih berkembang dan eksis di Suriname, tetapi bukan lagi Jawa yang "njawani" sebaliknya telah berbaur dengan kultur dan etnis yang hidup di situ sehingga terlihat sebagai Jawa yang mengglobal.
Maka tak mengherankan jika mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa di Suriname tetapi melodinya beriramakan musik regae ataupun pop manis bukan campur sari sebagaimana di Indonesia karena terpengaruh kultur Karibia.
"Budaya Jawa memang berkembang di sini, tetapi Jawa yang seperti apa? Tentunya bukan Jawa seperti Yogyakarta karena di sini tidak ada keraton ataupun Indonesia. Namun, Jawa yang menjadi bagian dari bangsa Suriname," kata Menteri Dalam Negeri Suriname Soewarto Moestadja.
Dari KOMPAS
Label:
Amerika Selatan,
Budaya,
Buruh,
Imigran,
Jalan,
Jawa,
Jowo,
Karibia,
Kemerdekaan,
Kuli,
Menteri,
Pengusaha,
Radio,
Suriname,
Tanah Seberang,
TV
Jumat, 08 Oktober 2010
Bali Siapkan Jalan Bawah Tanah
Denpasar (ANTARA News) - Bali akan memiliki jalan bawah tanah (under pass) untuk mengantisipasi kemacetan terkait pelaksanaan sejumlah gelaran kenegaraan penting di provinsi itu, yakni Pertemuan Puncak Pemimpin ASEAN 2011 dan Konferensi APEC 2013.
Dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan ASEAN Summit 2011 di Denpasar, Kamis petang, berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan gelaran itu menyepakati jalan bawah tanah itu segera dibangun di sekitar Simpang Dewaruci, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali.
Jalan utama di Bali itu menghubungkan Kota Denpasar ke Bali bagian selatan, terutama kawasan Kuta, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Jimbaran, dan Nusa Dua. Simpang Dewaruci dinamakan demikian karena terdapat satu patung besar Dewaruci berwarna putih di tengah simpang itu.
Kemacetan hampir selalu terjadi di simpang bercabang empat itu karena lebar jalan tidak bisa mengimbangi jumlah kendaraan roda empat dan roda dua yang berlalu di sana. Kemacetan semakin parah saat musim liburan tiba sehingga bisa mengurangi kenikmatan berwisata di Pulau Dewata.
Rapat koordinasi itu dipimpin Gubernur Bali Made M Pastika, yang juga dihadiri Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung, beberapa petinggi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan berbagai instansi lain terkait.
Menurut Pastika, kesepakatan untuk membangun jalan bawah tanah itu merupakan satu opsi yang paling memungkinkan untuk diterapkan di Bali.
Meskipun pembangunan jalan bawah tanah itu memerlukan dana besar, terdapat sejumlah alasan yang melatarbelakangi kesepakatan itu.
Di antara alasan itu adalah tidak perlu memindahkan Patung Dewaruci sehingga bisa tetap memenuhi syarat estetika, diharapkan mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat terkait budaya Bali.
Selanjutnya, pemerintah pusat diharapkan segera menindaklanjuti hasil kesepakatan ini agar penataan Simpang Dewaruci segera terealisasi.
Dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan ASEAN Summit 2011 di Denpasar, Kamis petang, berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan gelaran itu menyepakati jalan bawah tanah itu segera dibangun di sekitar Simpang Dewaruci, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali.
Jalan utama di Bali itu menghubungkan Kota Denpasar ke Bali bagian selatan, terutama kawasan Kuta, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Jimbaran, dan Nusa Dua. Simpang Dewaruci dinamakan demikian karena terdapat satu patung besar Dewaruci berwarna putih di tengah simpang itu.
Kemacetan hampir selalu terjadi di simpang bercabang empat itu karena lebar jalan tidak bisa mengimbangi jumlah kendaraan roda empat dan roda dua yang berlalu di sana. Kemacetan semakin parah saat musim liburan tiba sehingga bisa mengurangi kenikmatan berwisata di Pulau Dewata.
Rapat koordinasi itu dipimpin Gubernur Bali Made M Pastika, yang juga dihadiri Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung, beberapa petinggi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan berbagai instansi lain terkait.
Menurut Pastika, kesepakatan untuk membangun jalan bawah tanah itu merupakan satu opsi yang paling memungkinkan untuk diterapkan di Bali.
Meskipun pembangunan jalan bawah tanah itu memerlukan dana besar, terdapat sejumlah alasan yang melatarbelakangi kesepakatan itu.
Di antara alasan itu adalah tidak perlu memindahkan Patung Dewaruci sehingga bisa tetap memenuhi syarat estetika, diharapkan mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat terkait budaya Bali.
Selanjutnya, pemerintah pusat diharapkan segera menindaklanjuti hasil kesepakatan ini agar penataan Simpang Dewaruci segera terealisasi.
Dikutip dari ANTARA news & Gambar balinewsonline
Langganan:
Komentar (Atom)


